Postedon June 29, 2013 by Ari Wahyudi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila telah masuk Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka Jahannam, dan dirantai setan-setan." (Muttafaq 'alaih) Continue reading →. Posted in Keutamaan | Tagged Amalan Puasa
Kesempurnaan Agama Islam باللغة الإندونيسية Disusun OlehMuhammad bin Ibrahim bin Abdullah At TuwaijryPenerjemah Team IndonesiaMurajaah Abu Ziyadكمال دين الإسلامإعدادمحمد بن إبراهيم بن عبد الله التويجريترجمةالفريق الإندونيسيمراجعةإيكو أبو زيادMaktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwahالمكتب التعاوني للدعوة وتوعية الجاليات بالربوة بمدينة الرياض1428 – 2007Kesempurnaan Agama IslamIslam adalah agama yang sempurna, yang dengannya Allah SWT, muliakan manusia. Dan dengan islam pula terwujudnya kebahagian manusia di dunia dan akherat. Allah Azza wa jalla telah menciptakan alam ini, dan menjadikan setiap makhluk yang ada didalamnya tunduk kepada sunnatullah hukum Allah atau tabiat yang berlaku atasnya. Dengannyalah Allah mewujudkan kehendakNya, oleh karena itu segala sesuatu yang telah ditetapkan atasnya hukum Allah tsb, tidak bisa di ubah kecuali hanya dengan perintah Allah saja;سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلاً سورة الفتح 48/23"Sebagai suatu sunnatullah hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu."Matahari memiliki sunnatullah, malam memiliki sunnatullah, siang memiliki sunnatullah, tumbuh-tumbuhan memiliki sunnatulah, hewan-hewan memiliki sunnatulah, begitu juga angin, air, bintang-bintang, lautan dan gunung-gunung; setiap mereka memiliki sunnatulah hukum Allah yang berlaku atas mereka. Dan begitulah seterusnyaلا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَسورة يــس 36/40"Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."Dan manusia juga makhluk dari makhluk-makhluk Allah yang butuh akan jalan yang ia lalui disetiap keadaan; untuk menggapai kesuksesan dunia dan akherat, dan jalan tersebut adalah agama Islam yang Allah memuliakan manusia dengannya serta meridhoinya untuk mereka, tidak diterima agama manapun selainnya, kebahagiaan dan kesengsaraan itu tergantung kepada sejauh mana ia berpegang teguh atau mengingkarinya, dan ia bisa memilih dalam menerimanya atau Allah I berfirman وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ [سورة الكهف - 29]Dan katakanlah "kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir".2. Allah I berfirman قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ وَالَّذِينَ كَفَرواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ سورة البقرة 2/38-39Kami berfirman "turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal didalamnya. "- Ketika Allah I menciptakan manusia, ditundukkan bagi manusia segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan Allah menurunkan kepada manusia kitab-kitab, juga diutusnya para rasul bagi manusia, serta Allah membekali manusia dengan panca indera dan pengetahuan; berupa pendengaran, penglihatan dan akal, dan Allah I memuliakannya dengan peribadatan manusia kepada Nya semata serta tidak menyekutukan Allah I berfirman أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً [سورة لقمان 31/20]"Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentinganmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat Nya lahir dan bathin."2. Allah I berfirman وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [سورة النحل 16/78]"dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur."3. Allah I berfirman وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللَّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ [سورة النحل 16/36]Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan "sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut itu".- Nikmat yang paling agungAllah menganugerahi kepada para hamba Nya dengan nikmat yang sangat banyak tidak terhitung, nikmat yang terpenting adalah nikmat diciptakannya kita, diberi umur panjang dan nikmat hidayah, dan nikmat yang teragung dan tertinggi dari nikmat-nikmat tadi adalah nikmat islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai utusan Allah I kepada umat manusia seluruhnya, inilah agama yang sempurna, menyeluruh dan kekal Mengatur hubungan antara manusia dengan Rabbnya dengan menyembah Nya mengesakan Nya serta bersyukur kepada Nya, menghadap kepada Nya dalam setiap permasalahan, takut kepada Nya, bertawakkal hanya kepada Nya, merendahkan diri untuk Nya, mencintai Nya, mendekatkan diri kepada Nya, meminta pertolongan Nya, memohon keridhoan Nya dan memohon diberikan jalan-jalan yang bisa mengantarkan kedalam syurga Nya serta bagaimana agar selamat dari kemarahan Nya dan siksaan hubungan antara manusia dengan Rasul Nya ﷺ dengan menta'atinya, mencintainya, mengikuti sunnahnya, membenarkan apa yang dibawa olehnya, menjadikannya sebagai suri teladan dan tidak beribadah kepada Allah I kecuali dengan apa yang disyariatkan hubungan antara manusia dengan manusia lainnya, seperti dengan ibu dan bapak, dengan isteri dan anak, dengan sanak famili dan tetangga, dengan orang 'alim dan orang awam, dengan orang muslim dan kafir, dengan penguasa dan masyarakat, dan dengan yang muamalah manusia dengan hartanya, mencari nafkah yang halal, menghindari penipuan, bersikap ramah dalam berjual beli, berinfaq untuk kebaikan, berusaha jujur, menghindari riba dan dusta, dan juga mengatur bagaimana membagikan harta shodaqoh, pembagian warisan dan lain mengatur kehidupan manusia dalam berkeluarga, mendidik anak-anak, menjaga keluarga agar jauh dari kerusakan, mengatur kehidupan pria dan wanita baik dalam keadaan senang ataupun susah, keadaan kaya atau miskin, keadaan sehat atau sakit, keadaan aman atau takut, keadaan bermuqim atau mengatur seluruh hubungan-hubungan tersebut diatas jembatan yang kuat berupa kecintaan karena Allah dan benci karena Allah, mengajak kepada sifat-sifat dan akhlaq terpuji, seperti dermawan, murah hari, malu, pemaaf, jujur, berbuat baik, adil, menolong orang, kasih sayang, simpati dan melarang dari segala keburukan dan kerusakan, kedholiman dan melampaui batas; seperti menyekutukan Allah, membunuh tanpa alasan yang benar, zina, berdusta, sombong, kemunafikan, mencuri, ghibah, memakan harta orang dengan cara yang bathil, riba, minum khamer, sihir, riya dan yang itu semua; Islam menghabarkan keadaan manusia di alam akherat. Dan sesungguhnya kehidupan di akherat itu dibangun berdasarkan kehidupannya di dunia. Maka barangsiapa yang datang dengan membawa keimanan dan amal-amalan shaleh; ia masuk syurga, di syurga ia berbahagia sekali karena bisa melihat wajah Allah, bersenang-senang dengan kenikmatan yang terdapat didalam syurga, yang mana syurga itu belum pernah dilihat oleh mata, dan belum pernah didengar oleh telinga dan tidak pula terbersit dalam hati manusia. Kekal di dalamnya selama-lamanya. Sedangkan orang yang datang dengan kekafiran dan kemaksiatannya maka ia masuk neraka dan mereka kekal di dalamnya, adapun orang muslim yang bermaksiat kepada Allah jika ia tidak diampuni maka akan diazab didalam neraka sebatas kadar dosanya, atau diampuni oleh Allah I dan tidak Allah I berfirman الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً [سورة المائدة 5/3]"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhoi islam itu jadi agama bagimu."2. Allah I berfirman لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ [سورة آل عمران 3/164]"ٍSungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al kitab dan al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan nabi itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."3. Allah I berfirman قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ = 15 يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ وَيُخْرِجُهُم مِّنِ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [سورة المائدة 5/15-16]"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus."4. Allah I berfirman وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ . وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَاراً خَالِداً فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ [سورة النساء 4/13-14]"Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam syurga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan Nya, niscaya Allah memasukkkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan."Agama ini akan tersebar dan disampaikan dengan jelas, sebagaimana jelasnya malam dan siang, kemudian agama islam akan kembali asing seperti semula.إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوى لي منها ... [صحيح مسلم ]"Sesungguhnya Allah telah menampakan kepadaku bumi sehingga aku bisa melihat dari penjuru timur dan baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan sampai kesemua tempat yang diperlihatkan kepadaku…" HR. Muslim.- Allah telah menyempurnakan agama ini bagi kita, dan menyempurnakan nikmat ini dengannya, serta ridho terhadap islam sebagai agama kita; maka barangsiapa yang menerima agama ini, ia bahagia di dunia dan nanti di akherat masuk syurga. Dan barangsiapa yang mengingkarinya ia sengsara di dunia, dan di akherat masuk neraka. Allah tidak akan pernah menerima agama dari seorang pun selain agama Allah I berfirman الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً [سورة المائدة 5/3]"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Ku-ridhoi islam itu jadi agama bagimu."2. Allah I berfirman وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [سورة آل 3/85]"Barangsiapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi."3. dari Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- dari rasulullah ﷺ, bahwasanya beliau bersabda والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار [صحيح مسلم]"Demi yang jiwa Muhammad ada di Tangan Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik yahudi atau nashroni yang mendengar tentang aku, kemudian ia mati dan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, maka ia termasuk penghuni neraka." HR. Muslim.2. Hikmah diciptakannya I menciptakan alam ini sebagai bukti akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaannya, dan seluruh makhluk di alam ini bertasbih dan memuji keagungan Allah ﷻ .Allah I berfirman اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً [سورة الطلاق 65/12]"Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah, ilmu Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." -Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan Nya, sebagaimana firman Allah I وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ . مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ [سورة الذاريات 56-57]"dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia meliankan supaya mereka menyembah Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan."- Alam dan fase-fase yang dilewati menciptakan manusia, serta menjadikannya melewati fase-fase waktu, tempat dan keadaan. Kemudian diakhiri dengan keabadian, baik itu abadi di syurga atau di neraka. Inilah fase-fase perpindahan tsbdalam perut ibu, inilah fase awal yang dilewati seluruh manusia, tempat tinggal pertama manusia selama kurang lebih 9 bulan, Allah I mengaturnya dalam kegelapan ini dengan kekuasaan Nya, ilmu Nya dan hikmah Nya; apa-apa yang dibutuhkan dari makanan, minuman dan tempat untuk berlindung. Pada fase ini tidak ada tugas dan beban kepada manusia. Ada 2 hikmah dengan adanya fase ini, yaitu menyempurnakan sendi-sendi dan anggota badan dan keluar kealam dunia setelah sempurna penciptaan secara dhohir dan dunia, alam yang lebih luas lagi dari alam perut ibu, dan jangka waktu bertempat di alam ini lebih panjang lagi dari alam perut ibu. Allah I mengatur dan menyediakan bagi manusia apa-apa yang dibutuhkannya di alam dunia ini. Juga Allah memberikan kelebihan berupa akal, pendengaran dan penglihatan, kemudian Allah mengutus rasul-rasul bagi manusia, menurunkan kitab-kitab untuknya dan memerintahkannya supaya ta'at kepada Allah, melarangnya bermaksiat kepada Allah, dijanjikan syurga bagi yang taat, dan siksaan neraka bagi yang bermaksiat. Hikmah adanya alam dunia ini adalah menyempurnakan keimanan kepada Allah I, dan menyempurnakan amal-amal sholeh, yang merupakan sebab dimasukkannya ke dalam syurga. Setelah itu berpindah lagi ke alam barzah di dalam qubur, inilah tempat awal dari perkampungan akherat. Manusia tinggal di alam ini sampai meninggalnya seluruh makhluq dan berdirinya hari qiamat. Bertempat di alam ini lebih panjang lagi dibanding dengan alam dunia, kebahagiaan dan kesengsaraan di alam ini juga lebih luas dan lebih sempurna dibanding dengan alam dunia; tergantung amal-amalan kita ketika di alam dunia, alam ini bisa menjadi taman dari taman-taman syurga atau menjadi lubang dari lubang-lubang neraka. Balasan sudah dimulai dari alam ini, kemudian berpindah lagi dari alam ini ke alam abadi, baik syurga atau akherat, kehidupan di alam ini tidak terbatas, kenikmatan-kenikmatan yang sempurna bagi orang-orang beriman, lengkap dan terpenuhi semua keinginan-keinginan orang-orang beriman. Barangsiapa yang ketika di alam dunia menyempurnakan apa yang dicintai oleh Allah I berupa keimanan, akhlaq dan amal-amal sholeh, maka di akerat ini Allah sempurnakan pula baginya apa yang ia sukai dan harapkan, dari apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbesit dalam hati manusia. Dan apabila ia datang tanpa membawa keimanan dan amalan-amalan sholeh, maka baginya balasan neraka jahanam dan kekal di dalamnya, sedangkan orang beriman tidak akan merasa puas ketika berpindah dari satu alam ke alam yang lain hingga ia kekal di dalam Kesempurnaan nikmat hatiAllah I menciptakan manusia dengan sebaik-baik penciptaan, memulyakannya diatas semua makhluk lainnya. Dan Allah menjadikan anggota-anggota tubuh manusia secara sempurna, ketika ia tidak memperoleh kesempurnaan tsb, akan terjadi gangguan, kekacauan, dan kesakitan. Maka dijadikan kesempurnaan mata itu dengan penglihatannya, kesempurnaan telinga dengan pendengarannya, kesempurnaan lisan dengan pembicaraannya, dan ketika hilang kesempurnaan kekuatan anggota badan tsb, ia akan mengalami sakit dan juga Allah I telah menjadikan kesempurnaan hati dan nikmat-nikmatnya, kegembiraannya, ketenangannya, dalam mengenal Rabbnya. Mencintai Nya, senang dan rindu kepada Nya, beramal dengan apa yang diridhoi Nya. Dan tetkala hilang kesempurnaan hati ini, maka azab yang sangat dan kesengsaraan yang lebih-lebih dibanding mata yang kehilangan penglihatannya, telinga yang kehilangan pendengarannya. Hati yang bersih dan selamat akan selalu melihat kebenaran sebagaimana mata melihat matahari.
Dansungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Makalah ini kami tulis setelah kami berdiskusi secara panjang lebar dengan salah satu aktivis pengusung dakwah khilafah’. Ia selalu menggunakan kata-kata toghut dalam membahasakan pemerintah. Seolah kata-kata toghut’ yang terdapat di dalam berbagai ayat di Al Qur’an hanya memiliki makna pemerintah yang kafir’. Padahal tidak demikian, tidak tepat jika kita maknakan selalu seperti itu. Ini sama saja menyempitkan makna toghut’ dan menyamakannya antara makna pada satu ayat dengan ayat yang lain. Oleh karenanya kami ingin menegaskan di sini bahwa makna kata thaghut’ yang terdapat di dalam Al Qur’an tidak hanya bermakna seperti itu. Mudah-mudahan uraian di bawah ini bermanfaat. Kita lihat ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang memakai kata-kata toghut’ Ada enam ayat di dalam Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata-kata toghut’. Ayat yang pertama adalah اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya iman. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah toghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan kekafiran. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” QS Al Baqarah 257 Kita lihat penjelasan ahli tafsir mangenai ayat ini. Ibnu Katsir mengatakan “Alloh Ta’ala mengabarkan bahwasannya Dia akan memberikan petunjuk kepada orang yang mengikuti jalan-Nya kepada jalan-jalan keselamatan. Maka Alloh akan mengeluarkan hamba-Nya yaitu orang-orang Mukmin dari kegelapan kekufuran dan keragu-raguan kepada cahaya kebenaran yang jelas, terang, nyata, mudah dan bercahaya. Dan bahwasanya orang-orang kafir sesungguhnya pelindung-pelindung mereka adalah syaiton yang menghiasi mereka kepada kebodohan dan kesesatan, serta mengeluarkan mereka dan menyimpangkan mereka dari jalan kebenaran menuju jalan kekufuran dan kedustaan, { Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya}. [Tafsirul Qur’anil Adhim 1/685 tahqiq Samiy bin Muhammad Salamah, Dar Toybah Lin Nasyr wa Tauzi cet. Ke 2 Th. 1999] Maka makna kata toghut’ dalam ayat ini adalah syaiton’. Ayat yang ke dua ألمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim meminta keputusan kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya. QS An Nisaa 60 Berkaitan dengan ayat ini Al Baghawi menukil perkataan As Sya’bi “Terjadi permusuhan antara seorang laki-laki dari kalangan Yahudi dan seorang laki-laki munafiq. Lantas berkatalah seorang Yahudi tadi “Kita akan mengambil hukum meminta keputusan kepada Muhammad”, ini di karenakan si Yahudi tadi mengetahui bahwa Nabi Muhammad bukanlah orang yang bisa di suap, serta tidak akan pernah condong terhadap salah satu hukum pilih kasih ketika mengambil keputusan. Akan tetapi si Munafiq malah mengatakan “Kita mengambil hukum meminta keputusan kepada orang Yahudi saja”, ini di sebabkan si Munafiq tadi mengetahui bahwa orang-orang Yahudi biasa menerima suap dan condong terhadap salah satu hukum pilih kasih ketika memutuskan. Keduanya pun sepakat, lalu mereka berdua mendatangi salah seorang dukun/ peramal’ di Juhainah dan berhukum meminta keputusan kepadanya. Setelah itu turunlah ayat ini.” [Ma’alimu Tanzil, 2/242, Abu Muhammad Al Husain Ibnu Mas’ud Al Baghawi, Dar Toybah Lin Nasyr wa Tauzi, Cet. Ke 4 Th. 1997] Berkaitan dengan sebab turunya ayat, maka makna kata toghut’ dalam ayat ini adalah “selain Alloh dan Rasul-Nya”, dan jika di kaitkan dengan kalimat sebelumnya yakni {Mereka hendak berhakim meminta keputusan kepada thaghut}, maka di maknakan “Meminta keputusan kepada selain Alloh dan Rasul-Nya”. Sedangkan Ibnul Jauzi di dalam tafsirnya juga menukil salah satu riwayat dari Ibnu Abbas, yang di dalamnya di katakan juga mengenai permusuhan orang Yahudi dan laki-laki Munafiq ini. Mereka berdua akhirnya sepakat mengadukan kepada permasalahan ini kepada Nabi. Setelah Nabi Shalallohu alaihi wasalam memberikan keputusan kepada mereka berdua, berkatalah si munafiq karena tidak puas dengan keputusan Nabi. Pent “Kita ke Umar bin Khatab”. Umar pun menerima mereka berdua, dan mereka berdua menceritakannya secara detail ke beliau. Kemudian Umar berkata “Tunggulah sebentar hingga aku keluar menemui kalian berdua lagi”, kemudian beliau masuk ke dalam rumah dan mengambil pedang beliau, kemudian keluar lagi dan membunuh si Munafiq tadi dengan pedang yang beliau bawa. Beliau mengatakan هكذا أقضي بين من لم يرض بقضاء الله ورسوله “Seperti inilah aku memberikan keputusan kepada orang yang tidak ridha akan keputusan Alloh dan Rasul-Nya.” Setelah itu turunlah ayat di atas. [lihat Zaadul Masiir pada penjelasan surat An Nisaa ayat ke 60] Ayat yang ke tiga الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” QS An Nisaa 76 Az Zamakhsyari memberikan penjelasan berkaitan dengan ayat diatas “Alloh Ta’ala memberikan dorongan kepada kaum Mukminin dan menyemangati mereka dengan memberikan kabar kepada mereka bahwasanya mereka itu sedang berperang di jalan Alloh, maka Alloh-lah pelindung mereka dan penolong mereka. Sedangkan musuh mereka yang berperang di jalan syaiton, maka tidak ada wali bagi mereka kecuali syaiton. Tipu daya syaiton kepada kaum Mukminin itu lebih lemah di bandingkan dengan tipu daya Alloh terhadap orang-orang kafir.” [Al Kasyaf, 1/433 Maktabah Syamilah] Maka berdasarkan penjelasan Az Zamakhsyari di atas, makna kata toghut’ dalam ayat ini adalah syaiton. Ayat yang ke empat قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ “Katakanlah “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang-orang fasik itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan orang yang menyembah thaghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” QS Al Maidah 60 Al Baghawi ketika menjelaskan kata-kata {“dan orang yang menyembah thaghut?”}, beliau mengatakan أي جعل منهم من عبد الطاغوت، أي أطاع الشيطان فيما سوّل له “Yaitu menjadikan bagian dari mereka, yaitu orang yang menyembah toghut’, yaitu orang yang mentaati apa yang di bujukkan syaiton kepadanya.” [Ma’alimu Tanzil, 3/75, Abu Muhammad Al Husain Ibnu Mas’ud Al Baghawi, dengan tahqiq Muhammad bin Abdullah, Utsman & Sulaiman Muslim, Dar Toybah Lin Nasyr wa Tauzi, Cet. Ke 4 Th. 1997] Sedangkan Ibnul Jauzi mengatakan “Yang di maksud dengan toghut’ dalam ayat ini ada dua pendapat, pertama maksudnya adalah berhala, dan yang ke dua maksudnya adalah syaiton.” [Zaadul Masiir 2/232 Maktabah Syamilah] Kita dapatkan dari penjelasan di atas bahwa makna toghut’ pada ayat ini adalah syaiton atau berhala. Ayat yang ke lima وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.” QS An Nahl 36 Sedangkan makna toghut’ pada ayat ini As Samarqandi menjelaskan “{dan jauhilah Thaghut itu} maksudnya adalah tinggalkanlah peribadatan kepada toghut’, yaitu syaiton, berhala, dan dukun,.” [Bahrul Ulum 2/464 Maktabah Syamilah] Asyinqiti mengartikan kata toghut’ berkaitan dengan ayat ini yaitu segala sesuatu yang di sembah selain dari pada Alloh. [lihat Adwaul Bayan pada penjelasan seputar ayat diatas] Maka lagi-lagi kita dapatkan makna toghut’ pada ayat ini adalah syaiton, berhala atau dukun. Dengan tambahan dari As Syinqiti makna secara umumnya adalah segala sesuatu yang di sembah selain dari pada Alloh. Ayat yang ke enam وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut yaitu tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.” QS Az Zumar 17 Pada ayat ini Ibnu Katsir memberikan penjelasan “Telah berkata Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari bapaknya {“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut yaitu tidak menyembahnya”}, bahwa ayat ini turun khusus kepada Zaid bin Amr bin Nufail, Abu Dzar, dan Salman Al Farisi. Namun yang benar adalah bahwa ayat ini mencakup mereka bertiga dan orang-orang selain mereka yang menjauhi peribadatan kepada berhala. Maka merekalah orang-orang yang di berikan kabar gembira dalam kehidupan mereka di dunia dan di akhirat.” [Tafsirul Qur’anil Adhim 7/90 tahqiq Samiy bin Muhammad Salamah, Dar Toybah Lin Nasyr wa Tauzi cet. Ke 2 Th. 1999] Sedang As Syaukani menjelaskan makna toghut’ di sini adalah berhala syaiton, dukun atau peramal. Ada pula yang menjelaskan makna toghut di sini nama orang Ajam selain arab seperti nama Jalut dan Tolut. [lihat Fatkhul Qadir 6/227 Maktabah Syamilah] Tidak kita nafikan memang salah satu penafsiran kata thaghut’ di dalam Al Qur’an adalah pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Alloh’. atau orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh’. Namun akan menjadi lain persoalan jika semua kata thaghut” di dalamnya di maknakan dengan makna yang sama, apalagi di jadikan hujjah untuk keluar dari ketaatan kepada pemimpin hanya karena alasan tidak berhukum dengan hukum Alloh. Ini di karenakan tidak semua orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh bisa kita vonis dengan vonis kafir. [Abu Ruqoyyah] *** Mengenai seseorang yang berhukum dengan hukum selain hukum Alloh apakah boleh kita hukumi sebagai kafir atau bukan, silahkan lihat disini.
Tidaksemua yang disembah selain Allah Ta'ala disebut dengan thaghut. Karena pendapat yang benar dari berbagai pendapat para ulama tentang makna istilah thaghut adalah sebagaimana perkataan Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullahu Ta'ala dalam Tafsir-nya (3/21): الصواب من القول عندي في الطاغوت أنه كل ذي
Selah SelahPsalm 1493Many them fear, no fear for I,Not I, not I,Don't want them life, a suicide,Not I, not IPlenty run, nowhere to hide,Not I, not I,I run to yeshua, I confide, I & I * come dance before the father,Selah * thanks and praise I will utterSelah * lucifer him no bother,Selah * zion here now my brotherMany them hate, no hate for I,Not I, not love war, famine, genocide,Not I, not IDrugs!! Take them body for a ride, never I, never a savior's, love inside,I abide with Jesus * come dance before the father,Selah * thanks and praise I will utterSelah * lucifer him no bother,Selah * zion here now my brotherPraise jah jah, no death for I,Not I, not II man live eternal life,Yes I, yes I crucifixion, Jesus die,His death for I, you and I*Price now paid see Jesus rise,Up high, so cry!Selah * come dance before the father,Selah * thanks and praise I will utterSelah * lucifer him no bother,Selah * zion here now my brother Selá SELÁSalmos 1493Muitos temem, nenhum medo tenho eu,Não eu, não eu,Não quero que eles vivam um suicídio,Não eu, não euCorreria e nenhum lugar para se esconder,Não eu, não eu,Eu corro para Yeshua, eu confio, eu & eu sobrevivoSELAH * Vem dançar diante do Pai,SELAH * Graças e louvor eu pronunciareiSELAH * Lucifer não O incomoda,SELAH * Zion está aqui agora meu irmãoMuitos odeiam, nenhum ódio de minha parte,Não eu, não euEles amam a guerra, a fome, o genocídio,Não eu, não euDROGAS !! Levam seus corpos pra um passeio, não a mim, NUNCA do amor de um Salvador por dentro,Eu permaneço em Jesus * Vem dançar diante do Pai,SELAH * Graças e louvor eu pronunciareiSELAH * Lucifer não O incomoda,SELAH * Zion está aqui agora meu irmãoLouvo a Jah Jah, nenhuma morte me alcança,Não à mim, não à mimCara, eu vivo a vida eterna,SIM eu, sim eu! Na crucificação, Jesus morreu,Sua morte foi por mim, por você e por mimAgora que o preço foi pago vejo Jesus ascender,Para o alto, então clame!SELAH * Vem dançar diante do Pai,SELAH * Graças e louvor eu pronunciareiSELAH * Lucifer não O incomoda,SELAH * Zion está aqui agora meu irmão
Клашуքաм р биጏеጬидቪγу
Ցо αζቶጅωտէճыն
Դևх гጩጢιհежሄ
ጯուςቡዮ е
Իфοхև гቻсуሙէлዠг եвугեрсеգ
Ոдрፓքիφο αմыսутаպоհ
ԵՒзፅւጎሓоπ ըսура ጁошեց
Обխፍαтвዟ фըй
Ле лօрቱ еσох
Υֆепс оζեсвፎηи аጪυ
Ηимитричоգ у аγеգፑዴα
Рсዥցаπуρատ ξ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu', maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
Nahl Ayat 35 Dari ayat ini sehingga ke ayat 89 adalah Perenggan Makro ke 3 surah ini. Tapi ia terbahagi kepada 7 bahagian kerana perenggan ini agak panjang. Dari ayat ini ke ayat 40 adalah jawapan kepada pihak yang menolak risalah dan hari akhirat. Ayat 35 ini adalah Ayat Syikayah. Allah memberitahu dalil bodoh yang digunakan oleh golongan musyrik. Mereka menjadikan kehendak Allah sebagai tanda keredhaanNya dan Allah jawab salah faham mereka itu dalam ayat ini. وَقالَ الَّذينَ أَشرَكوا لَو شاءَ اللَهُ ما عَبَدنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ نَحنُ وَلا آباؤُنا وَلا حَرَّمنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ ۚ كَذٰلِكَ فَعَلَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم ۚ فَهَل عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا البَلاغُ المُبينُ SAHEEH INTERNATIONAL And those who associate others with Allāh say, “If Allāh had willed, we would not have worshipped anything other than Him, neither we nor our fathers, nor would we have forbidden anything through other than Him.” Thus did those do before them. So is there upon the messengers except [the duty of] clear notification? MELAYU Dan berkatalah orang-orang musyrik “Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami mahupun bapa-bapa kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya”. Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; maka tidak ada kewajipan atas para Rasul, selain dari menyampaikan amanat Allah dengan terang. Ayat seterusnya وَقالَ الَّذينَ أَشرَكوا Dan berkatalah orang-orang musyrik Orang yang mengamalkan syirik, tetap juga tidak mengalah dengan amalan mereka. Walaupun telah diberitahu kesalahan amalan dan fahaman mereka, mereka tetap juga tidak mahu mendengar hujah dan dalil yang diberikan. Ini pula hujah mereka. Ayat seterusnya لَو شاءَ اللَهُ ما عَبَدنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ “Jika Allah menghendaki, nescaya kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, Mereka sebut nama Allah, menunjukkan yang mereka ini jenis orang yang kenal Allah itu Tuhan. Tetapi mereka masih juga melakukan syirik. Maka, tidak hairanlah kalau musyrikin ini adalah orang Islam yang kenal Allah. Mereka beriman kepada Allah, tetapi dalam masa yang sama, mereka ada fahaman dan amalan syirik. Ini adalah kerana mereka tidak belajar wahyu, maka mereka telah ditipu oleh syaitan yang mengajar ajaran-ajaran sesat kepada mereka. Untuk membenarkan amalan mereka yang syirik itu, mereka telah berhujah seperti yang Allah firmankan dalam ayat ini. Ini adalah kerana Allah tahu apakah yang berada di dalam hati mereka. Memang selalunya hujah orang-orang yang melakukan syirik ini Allah telah siap berikan di dalam Qur’an. Kita hanya cuma perlu semak sahaja. Dan orang musyrik itu tidak sedar bahawa hujah mereka ada dalam Qur’an. Mereka katakan bahawa apa yang mereka lakukan itu Allah redha dan ini adalah takdir’. Mereka berkata bahawa jikalau Allah tidak suka, tentu mereka tidak lakukan apa yang mereka lakukan itu; maknanya, mereka sangka, kerana tiada apa-apa halangan mahupun hukuman yang Allah timpakan kepada mereka, maka mereka rasakan amalan dan fahaman mereka itu benar. Mereka sangka, kerana Allah tidak beri apa-apa tanda yang ianya salah tidak sakit perut, jatuh sakit, kena panah petir dan sebagainya, jadi tentulah apa yang mereka lakukan itu benar. Mereka katakan lagi, Allah tidak ganggu apa yang mereka lakukan itu kerana Allah suka apa yang mereka lakukan. Dengan kata lain, perkataan mereka mengandungi kesimpulan bahawa seandainya Allah SWT tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tentulah Allah mengingkari perbuatan itu dengan menurunkan hukuman, dan tentulah Dia tidak akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukannya. Maknanya, mereka kata apa yang mereka buat itu adalah atas kehendak Allah. Ayat seterusnya نَحنُ وَلا آباؤُنا baik kami mahu pun bapa-bapa kami, Baik kami dan tok nenek kami. Mereka kata, “kalau ianya salah, tok nenek kami juga tidak akan lakukan. Tetapi tok nenek golongan terdahulu ramai yang lakukan, sehingga ia menjadi amalan turun temurun. Mustahil mereka salah juga? Adakah kamu mahu mengatakan bahawa mereka itu sesat?” Begitulah hujah mereka. Dan hujah tok nenek ini memang selalu digunakan. Maka kalau ada yang mengatakan amalan itu sudah lama ada di dalam masyarakat, beritahu mereka yang hujah mereka itu sama seperti hujah orang kafir yang Allah sampaikan dalam Qur’an. Beritahu mereka “eh, hujah awak ini samalah dengan hujah orang kafir, awak tidak tahu kah?”. Memang dia tidak tahu kerana dia tidak belajar tafsir Qur’an. Ayat seterusnya وَلا حَرَّمنا مِن دونِهِ مِن شَيءٍ dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya”. Mereka katakan lagi, kalau Allah tidak benarkan, tentulah mereka tidak haramkan perkara yang halal. Kalau tok nenek haramkan, tentulah ia ada sandaran mereka tidak tahu sandaran apa, mereka terima sahaja tanpa usul periksa. Perbuatan mengharamkan yang halal adalah perbuatan kufur. Kerana Allah sahaja yang boleh jatuhkan hukum halal dan haram. Kalau kita haramkan yang halal, maka itu sudah ambil kerja Tuhan. Bagaimana agaknya kalau ambil kerja Tuhan? Tentu berat hukumannya, bukan? Antara contoh mengharamkan yang halal adalah amalan berpantang masyarakat kita sekarang. Apabila ada wanita bersalin, maka mereka akan pantang haramkan pemakanan makanan tertentu. Ianya tanpa hujah, tetapi kerana bidan dari dahulu lagi sudah ajar begitu, mereka ikut sahaja. Ayat seterusnya كَذٰلِكَ فَعَلَ الَّذينَ مِن قَبلِهِم Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka; Allah beritahu, begitulah hujah yang dikatakan oleh orang-orang dahulu. Waktu itu diulang oleh Musyrikin Mekah. Dan sekarang diulang oleh Musyrikin Malaysia pula. Semuanya kerana ikut-ikutan sahaja dan tidak tahu tentang wahyu. Dan begitulah amalan masyarakat sebelum kita yang ikut amalan dari tok nenek mereka. Mereka kata perbuatan mereka itu telah ditakdirkan oleh Allah – maka tidak salah lah kalau begitu. Jadi kita harus faham benar-benar beza antara kehendak’ dan redha’. Memang Allah bagi mereka lakukan amalan itu, tanpa dikenakan azab semasa di dunia. Tetapi tidak semestinya Allah benarkan ia terjadi, menjadi hujah yang Allah redha’. Kerana Allah benarkan sahaja perbuatan jahat seseorang, tetapi dalam masa yang sama, Allah tidak redha. Kerana kalau orang mahu sesat, Allah biarkan sahaja. Allah tunggu di akhirat kelak untuk hukum dan azab mereka. Sebagai satu contoh, sihir adalah suatu perbuatan yang haram. Ianya sudah tentu salah, tetapi Allah benarkan ia terjadi, bukan? Adakah Allah redha? Tentu tidak. Allah benarkan sihir terjadi setelah pengamalnya melakukan proses-proses tertentu. Tetapi Allah pasti tidak redha dengan sihir. Ayat seterusnya فَهَل عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا البَلاغُ المُبينُ maka tidak ada kewajipan atas para rasul, selain dari menyampaikan dengan terang. Beritahu mereka kalau kamu dengar wahyu yang disampaikan oleh Rasul, kamu tidak akan cakap perkara seperti ini. Apabila kamu lakukan perkara sebegini, ini bermakna hati kamu yang tidak baik. Mereka kononnya berkata bahawa Allah tidak engkari apa yang mereka telah lakukan itu. Padahal sebenarnya Allah telah mengengkari perbuatan mereka dengan tindakan yang keras, dan Dia telah melarang manusia melakukannya dengan larangan yang kuat. Iaitu Dia telah mengutus seorang Rasul kepada setiap umat, memberitahu mana boleh lakukan dan mana tidak. Rasul tidak boleh hendak halang kamu dari melakukan apa yang kamu lakukan, kerana tugas Rasul hanya menyampaikan. Dan Rasul telah menjalankan tugas mereka – yang tidak terima dan dengar itu adalah kerana degil sahaja. Ayat seterusnya Nahl Ayat 36 Dalil naqli ijmali dan takhwif duniawi. وَلَقَد بَعَثنا في كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا أَنِ اعبُدُوا اللَهَ وَاجتَنِبُوا الطّاغوتَ ۖ فَمِنهُم مَن هَدَى اللهُ وَمِنهُم مَن حَقَّت عَلَيهِ الضَّلالَةُ ۚ فَسيروا فِي الأَرضِ فَانظُروا كَيفَ كانَ عاقِبَةُ المُكَذِّبينَ SAHEEH INTERNATIONAL And We certainly sent into every nation a messenger, [saying], “Worship Allāh and avoid ṭāghūt.”¹ And among them were those whom Allāh guided, and among them were those upon whom error was [deservedly] decreed. So proceed [ travel] through the earth and observe how was the end of the deniers. False objects of worship. MELAYU Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul. Ayat seterusnya وَلَقَد بَعَثنا في كُلِّ أُمَّةٍ رَسولًا Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat Ada penekanan di dalam ayat ini dengan penggunaan kalimah لقد kerana ada dua penekatan harf ل dan kalimah قد. Maka ada perkara penting yang Allah hendak sampaikan di sini yang kita kena beri perhatian. Allah cipta manusia dan tidak biarkan mereka terkontang kanting dalam dunia ini tanpa petunjuk. Allah bangkitkan Rasul dan Nabi di setiap kaum. Apabila kalimah كل digabungkan dengan isim nakirah kalimah dalam bentuk umum seperti أمة di dalam ayat ini, bermakna semua umat mendapat Rasul tanpa pengecualian. Sekurang-kurangnya mereka mendapat seorang Rasul mungkin ada yang dapat lebih lagi. Semua mendapat peluang untuk menerima ajaran agama. Selain dari itu, Allah telah menurunkan wahyu yang disampaikan melalui para Rasul. Dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad, dan kita adalah umat baginda. Walaupun kita tidak dapat berjumpa dengan Nabi Muhammad, tetapi ajaran baginda telah sampai kepada kita melalui hadis dan ajaran guru-guru agama. Tidak ada alasan mengatakan kita tidak dapat ilmu yang disampaikan daripada baginda. Ayat seterusnya أَنِ اعبُدُوا اللَهَ “Sembahlah Allah, Kalimah أن di sini adalah untuk menjelaskan kenapa para Rasul itu diutuskan. Maka tahulah kita apakah ajaran yang disampaikan oleh setiap Rasul kepada umat mereka. Ada dua perkara utama. Yang pertama adalah perintah dan keduanya ada larangan. Dan kedua-duanya di dalam bentuk fi’il amr kata arahan, maka ia adalah sesuatu yang wajib kita lakukan. Maka perintahnya di sini iaitu beribadatlah, serulah, hanya kepada Allah sahaja. Maksudnya apa? Itulah kita mengesakan Allah dan kita kena taat kepada Allah dengan mengikuti segala suruhanNya dan meninggalkan segala laranganNya, dalam keadaan merendah diri dan penuh kehinaan dalam perasaan takut, cinta dan harap. Inilah yang disampaikan oleh para Nabi sedang sebelum ini orang kafir kata apa yang mereka buat itu adalah apa yang Allah suka. Tidak mungkin Nabi ajar berlainan dengan apa yang Allah hendak, pula? Maka amalan orang kita pun kenalah diperiksa dengan dalil Al-Qur’an dan hadis. Ayat seterusnya وَاجتَنِبُوا الطّاغوتَ dan jauhilah Thaghut”, Sekarang disebut larangan pula. Maka kita bukan sahaja harus sembah dan seru kepada Allah, tetapi harus jauhkan dari sembahan dan seruan kepada taghut. Jangan pula lakukan dua-dua – sembah Allah dan sembah taghut pula. Kalimah اجتب itu bermaksud kena pastikan duduk di sebelah yang lain. Jangan jauh sahaja, tapi duduk di sebelah yang sama. Kena pastikan dia duduk sebelah sana, kita duduk sebelah sini. Ini kerana ia dari katadasar ج ن ب yang antara lain bermaksud sebelah’. Sebab itu kalau terjemahan Bahasa Melayu yang lama hendaklah kamu berseberang dari Taghut. Dan meninggalkan Taghut itu adalah tauhid. Kerana tidak mungkin kita boleh menjauhi Taghut melainkan dengan mentauhidkan Allah. Kedua-duanya kena berlaku serentak dan bersama. Tidak boleh buat satu sahaja. Ini masalah dengan orang kita, dua-dua mereka lakukan. Mereka beriman dengan Allah dan segala yang perlu diimani; tapi dalam masa yang sama, fahaman syirik pun mereka amalkan juga. Sedangkan dalam agama, kena ada nafi dan ithbat. Kena nafikan benda yang salah – seperti taghut, syirik dan bid’ah. Dan kena tetapkan ajaran yang benar iaitu ajaran Tauhid. Apakah pula taghut itu? Kita telah pernah jelaskan di dalam Nisa’51. Ia diambil dari kalimah تغيان yang bermaksud melepasi had atau melebihi had dari segi bahasa. Dari segi syariat, ada dua makna taghut. Makna khusus adalah syaitan. Makna am yang lebih umum pula adalah syaitan dan pengikutnya. Dihimpunkan maknanya yang terbaik adalah setiap apa yang dilanggari sempadannya oleh seseorang hamba sama ada disembah, atau diikuti, atau ditaati.’ Maka taghut terbahagi kepada 3 jenis 1. Yang disembah. Setiap apa yang disembah selain dari Allah. 2. Yang diikuti. Setiap apa yang diikut yang menyelisihi Sunnah Rasulullah. 3. Yang ditaati. Setiap apa yang ditaati yang menyalahi perintah Allah dan RasulNya. Jadi secara praktikalnya taghut ini boleh jadi banyak perkara. Sebagai contoh, kenduri arwah, tahlil arwah, tekong yang mengendalikan majlis itu pun taghut belaka. Taghut itu tidak semestinya kafir. Ramai yang bersangkaan salah yang semua taghut itu kafir. Tapi taghut itu mungkin sahaja maksiat sahaja tanpa mengeluarkan seseorang itu dari Islam. Tapi kita tetap kena tinggalkan taghut sama ada ianya haram atau makruh. Dan tentunya yang paling besar adalah syirik yang kena ditinggalkan keseluruhannya. Jadi ayat ini menjadi dalil bagi kewajipan kepada Tauhid. Ayat seterusnya فَمِنهُم مَن هَدَى اللهُ maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ada dari kalangan umat Rasul itu yang mahu beriman. Selalunya mereka ini tidak ramai. Dan mereka selalunya dari kalangan orang-orang yang lemah dan miskin. Tetapi mereka masih sanggup untuk menerima kebenaran. Merekalah yang menjadi pembantu kepada Rasul-rasul mereka dan mereka selalu akan menjadi orang yang ditindas dan diperlakukan dengan teruk. Ini adalah kerana golongan penentang selalunya adalah golongan yang kuat dan berkuasa dalam masyarakat. Ayat seterusnya وَمِنهُم مَن حَقَّت عَلَيهِ الضَّلالَةُ dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Tetapi ramai dari kalangan manusia yang tidak mahu beriman. Mereka ini lebih banyak dari bilangan mereka yang beriman. Walaupun telah diberikan dengan berbagai hujah, dalil dan tanda kebenaran, mereka masih juga tidak mahu terima. Telah pasti kesesatan ke atas mereka kerana kesalahan kepada diri mereka sendiri. Ini adalah kerana mereka tidak membuka hati mereka kepada kebenaran. Mereka ada rasa ragu-ragu kepada kebenaran yang disampaikan oleh Rasul mereka. Keraguan adalah perkara biasa sahaja, kerana bukan semua manusia terus beriman. Tetapi apabila ragu-ragu, haruslah dapatkan maklumat yang sebenarnya – kena dengar, fikir dan buat keputusan. Jangan terus berada dalam keraguan itu. Dan janganlah menentang penyebar tauhid. Kerana kalau mereka menentang, maka kesesatan itu mereka memang patut dapat. Ayat seterusnya فَسيروا فِي الأَرضِ Maka berjalanlah kamu di muka bumi Kepada mereka yang tidak mahu percaya kepada kebenaran wahyu, maka Allah suruh mereka berjalan di dunia ini. Ambil masa dan tengok alam ini serta fikir-fikirkan. Maka memang ada kelebihan kalau berjalan di atas muka bumi ini. Kerana banyak perkara kita boleh dapat tahu. Ayat seterusnya فَانظُروا كَيفَ كانَ عاقِبَةُ المُكَذِّبينَ dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Tengoklah kesan orang-orang dahulu yang telah dikenakan dengan azab kerana menolak wahyu dan Rasul mereka. Allah berikan azab yang amat menghinakan dan Allah hapuskan terus keturunan mereka. Ini begitu mudah sahaja bagi Allah untuk lakukan. Saranan ini kepada orang yang tidak mahu percaya sahaja. Kepada kita yang percaya, tidak perlu pergi ke tempat-tempat sebegitu. Kerana ada larangan daripada Nabi untuk pergi ke tempat-tempat yang telah dikenakan dengan azab itu. Ayat seterusnya Nahl Ayat 37 Ayat tasliah kepada Nabi. إِن تَحرِص عَلىٰ هُداهُم فَإِنَّ اللَهَ لا يَهدي مَن يُضِلُّ ۖ وَما لَهُم مِن ناصِرينَ SAHEEH INTERNATIONAL [Even] if you should strive for their guidance, [O Muḥammad], indeed, Allāh does not guide those He sends astray,¹ and they will have no helpers. As a result of their choice to reject guidance. MELAYU Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. Ayat seterusnya إِن تَحرِص عَلىٰ هُداهُم Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, Sebagai seorang Rasul yang sedar kesan buruk kalau menolak kebenaran, Nabi Muhammad amat berharap supaya semua umat baginda menerima kebenaran. Baginda amat sedih apabila ramai yang menolak dakwah daripada baginda. Baginda telah berusaha siang dan malam, berjumpa dengan mereka secara terang-terangan atau secara bersembunyi. Tetapi masih ramai lagi yang tidak mahu beriman. Baginda amat risau jikalau ada kesilapan dalam cara dakwah baginda. Baginda sebagai seorang yang lembut hati, telah menyalahkan diri baginda. Maka Allah mahu memberitahu bahawa bukannya salah baginda. Allah tahu bahawa baginda amat berharap sangat supaya semua umat baginda beriman, tetapi tidak semestinya keinginan baginda itu akan diperolehi. Ayat seterusnya فَإِنَّ اللَهَ لا يَهدي مَن يُضِلُّ maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, Kerana akan ada yang tidak beriman sampai bila-bila. Walaupun baginda berusaha bersungguh-sungguh sekali pun untuk dakwah mereka, baginda tidak dapat keluarkan mereka dari kesesatan. Baginda tidak mampu melakukannya kerana hidayah itu datang dari Allah. Ada orang yang Allah telah tetapkan tidak akan beriman. Tapi bukanlah Allah buat keputusan untuk terus sesatkan mereka dari mula lagi. Mereka yang telah tetap akan disesatkan itu adalah kerana mereka telah sampai peringkat keempat kekufuran. Ini adalah kerana mereka telah diberi peluang berkali-kali untuk menerima dakwah, tetapi mereka menolak dan mereka menentang berkali-kali pula. Hingga sampai pada satu tahap, Allah akan buat keputusan Khatmul Qalbi, terus tutup hati mereka dari kebenaran hidayah. Waktu itu, walau apa pun yang terjadi, walau sesiapa pun yang dakwah mereka, mereka tidak akan dapat menerima hidayah. Ayat seterusnya وَما لَهُم مِن ناصِرينَ dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. Apabila Allah telah membuat keputusan untuk tutup pintu hati mereka daripada kebenaran, tidak ada sesiapa pun yang dapat menyelamatkan mereka dari kesesatan – sama ada Rasul, ahli keluarga atau kawan-kawan mereka sekali pun. Mereka itu Allah telah tulis sebagai ahli neraka. Tunggu masa untuk mati dan dikenakan dengan azab sahaja. Sama halnya dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya {وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا} Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang dari Allah. Al-Maidah 41 Allahu a’lam. Sambung ke tafsir yang seterusnya. Kemaskini 30 Mac 2023 Rujukan Maulana Hadi Nouman Ali Khan Tafsir Ibn Kathir Mutiara al-Qur’an